BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Ukuran penyebaran data merupakan
salah satu materi statistika yang didalamnya dibahas tentang sejauh mana data
itu menyebar dari nilai rata-rata dalam data. Sebenarnya materi ini cukup mudah
untuk kta pahami namun dalam menentukan nilai-nilai dari setiap komponen yang
termasuk dalam ukuran penyebaran data seringkali kita beleum mampu memhami
ataupun kita keliru dalam mentukan nilai-nilai dari komponen-komponen tersebut.
B. Tujuan
·
Memahami
materi ukuran penyebaran data serta mampu menentukan nilai-nilai dari
komponen ukuran penebaran data.
C. Rumusan Masalah
·
Bagaiman kita memahami seperti apa ukuran penyebaran data ?
·
Apa saja yang termasuk dalam ukuran penyebaran
data ?
·
Bagaimana kita menentukan nilai-nilai dari
komponen ukuran penyebaran data ?
D. Manfaat Penulisan
·
Untuk dijadikan pegangan dalam pembelajaran
statistika khususnya dalam materi ukuran penyebaran data
BAB II
PEMBAHASAN
A. Ukuran Penyebaran Data
Dengan menentukan pemusatan data dan
ukuran letak data ternyata belum cukup untuk memberikan gambaran yang jelas
dari suatu data. Mengapa demikian? Untuk mengetahuinya, simaklah permasalahan
berikut dengan cermat! Dinas pertanian menyarankan penggunaan pupuk jenis baru
dengan merk A dan B agar dapat meningkatkan hasil panen jagung.
Setelah dilakukan uji coba pada 8 petak lahan yang sama, hasil panen jagung
disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 1.Data hasil panen jagung dalam ton
Pupuk A
|
8
|
8
|
6
|
5
|
4
|
9
|
5
|
7
|
Pupuk B
|
6
|
6
|
7
|
7
|
8
|
7
|
6
|
5
|
Dari data tabel diatas rata–rata hasil panen dengan pupuk A dan pupuk
B sama, yaitu 6,5 ton. Namun, apabila
data tersebut digunakan untuk mengukur kualitas pupuk setiap lahan. Apakah
kualitas pupuk A akan sama dengan pupuk B? Belum tentu. Coba Anda perhatikan
tabel 1.20, hasil panen pupuk B memiliki rentang yang lebih kecil dari pupuk A,
yaitu 5 sampai 8. Jadi, dengan menggunakan pupuk B, hasil panen setiap petak
lebih seimbang. Dengan demikian, untuk memberikan gambaran suatu data yang
lebih lengkap diperlukan suatu ukuran, yaitu ukuran penyebaran data.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa :
Ukuran penyebaran data adalah ukuran yang menunjukkan
seberapa jauh data suatu menyebar dari rata–ratanya.
Beberapa ukuran penyebaran sebagai berikut.
1. Jangkauan
sering disebut range atau rentang. Jangkauan
dari suatu data didefinisikan sebagai selisih antara data terbesar dengan data
terkecil. Untuk memahaminya, perhatikan contoh di bawah ini!
Contoh 1
Data terurut dari banyaknya buku pelajaran yang dimiliki 9 siswa yaitu:
4, 5, 6, 6, 7, 7, 7, 8, 9
Jangkauan
data di atas adalah R = xmaks – x min = x9 – x1 = 9 –
4 = 5
Dapat disimpulkan bahwa untuk menentukan jangkauan suatu
kumpulan data tunggal dapat menggunakan persamaan:
kumpulan
data tunggal dapat menggunakan persamaan:
R = xmaks – xmin
Keterangan:
R = jangkauan/range/rentang
Xmaks = data terbesar
Xmin = data terkecil
Jangkauan data berkelompok merupakan selisih antara
nilai tengah kelas terakhir dengan nilai tengah kelas pertama.
Perhatikan tabel berikut ini!
Tabel 2 Data umur peserta sertifikasi
guru
Umur
|
Titik Tenga
|
Frekuensi
|
30-34
|
32
|
5
|
35-39
|
37
|
35
|
40-44
|
42
|
100
|
45-49
|
47
|
50
|
50-54
|
52
|
10
|
Tabel 2 menunjukkan data umur peserta yang mengikuti
diklat sertifikasi guru yang berjumlah 200 orang.
Bila nilai tengah kelas pertama adalah 32 dan nilai tengah kelas
terakhir adalah 52, maka
R = 52 – 32
= 20
Jadi, jangkauan data dari tabel 2 adalah 20. Dapat
disimpulkan bahwa untuk menentukan jangkauan data berkelompok digunakan
persamaan:
R = xmaks – xmin
R = jangkauan/range/rentang
Xmaks = nilai tengah kelas terakhir
Xmin = nilai tengah kelas pertama
2. Jangkauan Antarkuartil
Jangkauan antarkuartil juga disebut
hamparan. Bagaimana cara menentukan jangkauan antarkuartil ? Perhatikan contoh
pada subbab jangkauan untuk data tunggal. Diperoleh nilai kuartil pertama Q1
= 5,5 dan kuartil ketiga Q3 = 7,5.
Jadi, jangkauan antarkuartilnya adalah H
= 7,5 – 5,5 = 2.
Dapat disimpulkan bahwa:
Jangkauan antarkuartil adalah selisih antara kuartil ketiga dengan
kuartil pertama.
Untuk
menentukan jangkauan antarkuartil, dapat digunakan persamaan:
H = Q3 – Q1
Keterangan:
H = jangkauan
antarkuartil (hamparan)
Q3 = kuartil ketiga
Q1 = kuartil pertama
3. Jangkauan semi antarkuartil
Jangkauan semi antarkuartil juga disebut
simpangan kuartil. Apa hubungan antara jangkauan semi antarkuartil dengan
jangkauan antarkuartil? Untuk mengetahuinya, perhatikan contoh 1.7. Diperoleh
nilai jangkauan antarkuartil H = 2, nilai jangkauan semi antarkuartilnya
adalah
Dapat
disimpulkan bahwa:
Jangkauan
semi antarkuartil adalah nilai dari setengah kali jangkauan antarkuartil.
Pengertian
di atas dapat dinyatakan dalam persamaan:
Keterangan:
Qd = jangkauan semi antarkuartil
H = jangkauan
antarkuartil (hamparan)
4. Langkah
Apabila nilai jangkauan antarkuartilnya
dikalikan satu setengah, maka
diperoleh langkah sebesar:
L = 1
Untuk
Contoh 1 Nilai L =
= 3
Jadi,
dapat disimpulkan bahwa:
Langkah adalah nilai dari satusetengah dikalikan jangkauan antarkuartil.
Pengertian
tersebut dapat ditunjukkan dengan persamaan:
L = 1
=
5. Pagar Dalam dan Pagar Luar
Untuk menentukan pagar dalam dan pagar
luar, coba Anda lihat kembali hasil pada contoh sebelumnya. Apakah ada
hubungannya?
Bila diperoleh, pagar dalam = Q1
– L = 5,5 – 3 = 2,5 pagar luar = Q3 + L = 7,5 +
3 = 10,5 Dapat disimpulkan bahwa untuk menentukan pagar dalam dan luar
digunakan persamaan:
Pagar dalam = Q1 – L
Pagar luar = Q3 + L
Sehingga dapat didefinisikan:
Pagar dalam adalah nilai data yang berada satu langkah di bawah kuartil
pertama.
Pagar luar adalah nilai data yang berada satu langkah di atas kuarti ketiga.
Pagar dalam dan pagar luar berfungsi sebagai batas
penentu normal atau tidaknya suatu data.
Data xi dikatakan
normal apabila nilai data yang satu dengan nilai data yang lain tidak jauh
berbeda dan terletak di antara batas–batas pagar dalam dan pagar luar.
Data xi dikatakan tidak normal apabila nilai
data tersebut tidak konsisten dalam kelompoknya, dan terletak kurang dari pagar
dalam dan lebih dari pagar luar.
Data yang tidak konsisten dalam kelompoknya disebut
pancilan atau data liar. Pencilan pada suatu kumpulan data menimbulkan
kecurigaan sehingga pencilan itu perlu dikaji secara seksama. Apa yang menjadi
penyebabnya? Munculnya data pencilan dalam suatu kumpulan data dapat terjadi
akibat kesalahan ketika mencatat data dan juga kesalahan ketika melakukan
pengukuran.
6. Statistik Lima Serangkai
Nilai–nilai statistik seperti jangkauan, jangkauan
antarkuartil, jangkauan semi antarkuartil, langkah, pagar dalam, dan pagar luar
akan lebih mudah ditentukan apabila kumpulan data disajikan dengan menggunakan
statistik lima serangkai dalam bentuk bagan.
Untuk
lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut.
Contoh 2
Diketahui
data 31, 32, 27, 28, 29, 36, 35, 32, 34, tentukanlah:
a.
Statistik lima serangkai
b.
Jangkauan
c.
Jangkauan antarkuartil
d. Jangkauan
semi antarkuartil
e.
Langkah
f. Pagar
dalam dan pagar luar
g. Jika
terdapat nilai 10 dan 50, apakah kedua nilai data tersebut konsisten
dalam
kumpulan data yang sudah diketahui?
Jawab:
a. Statistik lima serangkai
* Urutkan data dari data yang terkecil hingga yang terbesar
membentuk statistik jajaran, sebagai berikut:
27,
28, 29, 31,
32, 32, 34,
35, 36, 37,
38
Tentukan
kuartil dengan mencari letak Q1, Q2, dan Q3.
Letak Q1
=
= data ke–3, yaitu Q1 =
= 29
Letak Q2 =
= data
ke–6, yaitu Q2 =
=
32
Letak Q3 =
= data ke–9, yaitu Q3 = x9
= 36
Jadi,
statistik lima serangkai dapat disajikan pada tabel berikut.
xmin = 27
|
Xmax = 38
|
b.
Jangkauan
R = xmaks – xmin
= 38 – 27
= 11
Jadi,
jangkauan dari data adalah 11.
c.
Jangkauan antarkuartil
H = Q3 – Q1
= 36 – 29
= 7
Jadi, jangkauan antarkuartil dari data adalah 7.
d. Jangkauan semi antarkuartil,
=
3,5
Jadi, jangkauan semi antarkuartil dari data adalah 3,5.
e. Langkah, L = 1,5 H
= 1,5 ×7
= 10,5
Jadi,
langkah dari data adalah 10,5.
f. Pagar
dalam = Q1 – L
= 29 – 10,5
= 18,5
Pagar luar = Q3 + L
= 36,5 + 10,5
= 46,5
Jadi, pagar dalam dari data 18,5 dan pagar luar 46,5.
g. Karena 10 lebih kecil dari pagar dalam dan 50 lebih besar dari pagar
luar, nilai data 10 dan 50 tidak konsisten terhadap kumpulan data pada soal
tersebut.
Menetukan Nilai
statistik Lima Serangkai dalam tabel
distribusi frekuensi
7. Simpangan Rata–Rata
Pada subbab terdahulu, Anda telah mempelajari nilai
mean atau rata– rata hitung dari kumpulan data. Bagaimanakah hubungan ukuran
penyebaran data terhadap rata–rata data tersebut? Untuk mengetahuinya, marilah
kita simak contoh 3 berikut ini.
Diketahui hasil dari pengukuran adalah 3, 4, 5, 6, 8,
9. Penyebaran nilai data terhadap rata–ratanya dapat ditentukan dengan langkah–
langkah berikut.
a. Sebelumnya, Anda menentukan terlebih dahulu nilai rata–rata dari
data dengan n = 5, yaitu:
= 6
b.
Tuangkan data-data tersebut dalam tabel.
Tabel 3
3
|
-3
|
3
|
4
|
-2
|
2
|
6
|
0
|
0
|
8
|
2
|
2
|
9
|
3
|
3
|
c.
Selanjutnya dari tabel tersebut, simpangan rata–rata data dapat diperoleh
dengan persamaan:
Jadi, simpangan rata–rata data tersebut adalah 2. Dari contoh di atas,
dapat disimpulkan bahwa:
Simpangan rata–rata atau deviasi rata–rata adalah ukuran yang menyatakan
seberapa besar penyebaran tiap nilai data terhadap nilai meannya
(rata–ratanya).
Bila diketahui data tunggal
,
,
, ...,
dengan rata–rata
maka simpangan dari
adalah
, simpangan dari
adalah
, dan seterusnya sehingga diperoleh jumlah nilai mutlak simpangan,
yaitu:
Simpangan rata–rata dapat didefinisikan sebagai:
Keterangan
:
SR = simpangan
rata-rata
n =banyaknya data
= data ke-i
i= 1, 2, 3, …,n
= mean
Untuk data dari tabel distribusi frekuensi, simpangan rata–rata dapat
ditentukan dengan persamaan:
Keterangan
:
SR = simpangan
rata-rata
= frekuensi
data ke-i
n =banyaknya data
= data ke-i
i= 1, 2, 3, …,n
= mean
Untuk
memahaminya perhatikan contoh berikut ini!
Contoh 4
Data pengukuran berat masing–masing barang elektronik
bila akan ditentukan simpangan rata–ratanya, maka tabel menjadi:
Tabel 4 Berat barang elektronik dalam (kg)
Berat(kg)
|
Titik tenga
|
frekuensi
|
|||
11-15
|
13
|
1
|
13
|
-16
|
16
|
16-20
|
18
|
4
|
72
|
-11
|
11
|
21-25
|
23
|
8
|
184
|
-6
|
6
|
26-30
|
28
|
10
|
280
|
-1
|
1
|
31-35
|
33
|
9
|
297
|
4
|
4
|
36-40
|
38
|
6
|
228
|
9
|
9
|
41-45
|
43
|
2
|
86
|
14
|
14
|
Jumlah
|
-
|
40
|
1160
|
236
|
Maka diperoleh
= 5,9
Jadi, simpangan rata–rata data pada tabel 4 adalah 5,9.
8. Variansi dan Simpangan Baku
Ukuran penyebaran data yang paling sering digunakan
adalah variansi (ragam) dan simpangan baku (standar deviasi). Ragam dan
simpangan baku menjelaskan penyebaran data di sekitar rataan. Pada bagian ini,
kita hanya akan membahas cara menghitung dan mendapatkan ragam dan simpangan
baku dari suatu data, sedangkan kegunaannya belum akan dipelajari pada bab ini.
a. Variansi (Ragam)
Coba Anda ingat kembali cara menentukan nilai mean
atau rata– rata hitung dari suatu data. Mean atau rata–rata hitung mewakili
suatu data sehingga dalam pengamatan diharapkan nilai data lebih kecil dari
nilai rata–rata.
Untuk memahaminya, perhatikan nilai–nilai berikut: 1,
4, 8, 10, 12. Rata–rata data tersebut (
) adalah 7 dan simpangan dari masing– masing data (
–
) adalah –6, –3,
1, 3, 5. Bila Anda perhatikan, jumlah dari simpangan di atas adalah nol.
Misalnya, kumpulan data
,
, ...,
mempunyai rata–rata
, maka simpangan masing–masing data dari rata–ratanya adalah (
), (
),
..., (
). Jumlah dari semua simpangan :
Harus sama dengan nol. Untuk mengatasi hal itu,
diperlukan suatu ukuran penyebaran, yaitu variansi (ragam). Variansi didasarkan
pada jumlah kuadrat dari simpangan, didefinisikan sebagai:
Variansi (ragam) adalah rata–rata dari jumlah kuadrat
simpangan tiap data.
Persamaan berikut digunakan untuk menentukan besarnya variansi (ragam).
Keterangan :
=
variansi/ragam
Maka, nilai variansi/ragam dari data pada contoh di atas adalah:
Jadi, variansi dari data adalah 16.
Untuk data berkelompok atau data yang disajikan dalam tabel distribusi
frekuensi, variansi atau ragam dapat dinyatakan dengan persamaan:
Untuk memahami penggunaannya, perhatikan contoh berikut ini! Dari data
pada tabel 5 diperoleh data mengenai berat barang elektronik. Variansi/ragam
dari data tersebut dapat ditentukan, yaitu dengan mengkuadratkan simpangannya.
Bila rata–rata data
= 29,
maka:
Tabel 5 Berat barang elektronik dalam (kg)
Berat(kg)
|
Titik tenga
)
|
frekuensi
|
|||
11-15
|
13
|
1
|
-16
|
256
|
256
|
16-20
|
18
|
4
|
-11
|
121
|
484
|
21-25
|
23
|
8
|
-6
|
36
|
283
|
26-30
|
28
|
10
|
-1
|
1
|
10
|
31-35
|
33
|
9
|
4
|
16
|
144
|
36-40
|
38
|
6
|
9
|
81
|
486
|
41-45
|
43
|
2
|
14
|
196
|
392
|
Jumlah
|
-
|
40
|
-
|
-
|
2060
|
Maka diperoleh:
Jadi, variansi atau ragam data pada tabel adalah 51,5.
b. Simpangan Baku (Standar Deviasi)
Untuk mengatasi kesulitan menafsirkan ukuran
penyebaran data yang dinyatakan dalam satuan kuadrat yaitu variansi (ragam),
digunakan suatu ukuran yang disebut simpangan baku atau standar deviasi.
Simpangan baku mengukur penyebaran data dengan satuan yang sama dengan satuan
data.
Bila satuan kuadrat merupakan bentuk variansi atau
ragam, apa hubungan variansi dengan simpangan baku? Untuk mengetahuinya,
simaklah contoh berikut ini.
Data dari tabel 5 diperoleh nilai variansi atau ragam,
yaitu:
simpangan
bakunya adalah:
s =
=
= 7,18
Jadi, nilai simpangan bakunya adalah 7,18.
Sehingga
dapat disimpulkan bahwa:
Simpangan
baku atau standar deviasi adalah nilai akar dari variansi atau ragam.
Simpangan
baku/standar deviasi dapat dihitung dengan persamaan:
1) Untuk data tunggal
2) Untuk
data berkelompok
dengan s = simpangan baku/standar deviasi
= ragam/variansi
BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN
1.
Ukuran
penyebaran data adalah ukuran yang menunjukkan seberapa jauh data suatu
menyebar dari rata–ratanya.
2.
Jangkauan dari suatu data didefinisikan sebagai selisih
antara data terbesar dengan data
terkecil.
3.
Jangkauan antarkuartil adalah selisih antara kuartil
ketiga dengan kuartil pertama.
4.
Jangkauan semi antarkuartil adalah nilai dari setengah
kali jangkauan antarkuartil.
5.
Langkah adalah nilai dari satusetengah dikalikan
jangkauan antarkuartil.
6.
Pagar dalam adalah nilai data yang berada satu langkah
di bawah kuartil pertama.
7.
Pagar luar adalah nilai data yang berada satu langkah
di atas kuarti ketiga.
8.
Simpangan rata–rata atau deviasi rata–rata adalah
ukuran yang menyatakan seberapa besar penyebaran tiap nilai data terhadap nilai
meannya (rata–ratanya).
9.
Variansi (ragam) adalah rata–rata dari jumlah kuadrat
simpangan tiap data.
10. Simpangan baku atau standar deviasi adalah nilai akar dari variansi atau
ragam.
B.SARAN
Dalam
pembuatan makalah ini penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan untuk itu
saran yang membangun dari pembaca sangat penulis harapkan demi sempurnanya
makalah ini kedepan.
DAFTAR PUSTAKA
BSNP. 2006. Standar
Kompetensi Mata Pelajaran Matematika untuk SMA. Jakarta: BSNP.
Harinaldi. 2005. Prinsip–Prinsip Statistik
untuk Teknik dan Sains. Jakarta: Erlangga.
Casino Nightclub by Hard Rock - Jackson, MN - JSMH
BalasHapusThe Casino Nightclub will be located at 6131 S. 삼척 출장샵 St. Jackson, MN 대전광역 출장마사지 55040. 광명 출장샵 The 아산 출장마사지 venue is a must have experience. 화성 출장안마 JAMCO Nightclub